KHOIRA UMMATI

ccess.com/articles/misc/anger.asp
Diposkan oleh mudzakarah wargajenggot di 20:47 0 komentar
Rabu, 12 Oktober 2011
Pattimura, Mujahid Yang ‘Dikristenkan’
Semua orang pasti mengenal pahlawan nasional maluku, Kapitan Pattimura. Tapi tidak banyak orang yang tahu bahwa dia adalah seorang muslim. Selama ini dalam buku-buku sejarah dia selalu disebut sebagai seorang kristen. Nama aslinya adalah Ahmad Lussy, namun sejarah menulisnya sebagai Thomas Mattulessy, yang identik dengan kristen.

Distorsi sejarah ini berlangsung sejak masa Orde Lama hingga Orde Baru dan belum di ubah hingga saat ini. Hebatnya, masyarakat lebih percaya kepada predikat kristen itu, karena Maluku sering di identikkan dengan Kristen.

Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan ( bukan saparua seperti dalam sejarah versi pemerintah), dia bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (kazim Allah/Asisten Allah) dalam bahasa Maluku disebut Kasimillah. Menurut sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara, Pattimura adalah seorang Muslim yang taat. Selain keturunan bangsawan, ia juga seorang Ulama. Data sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu semua pemimpin perang dikawasan Maluku adalah bangsawan atau Ulama atau keduanya.
Dia bangkit memimpin rakyat Maluku menghadapi ambisi penjajah yg membawa misi gold( emas/kekayaan), gospel (penyebaran injil), and glory (kebanggaan). Perlawanan rakyat Maluku dilakukan karena kekhawatiran dan kecemasan rakyat akan timbulnya kembali kekejaman pemerintah Belanda seperti yg pernah dilakukan pada masa pemerintahan VOC. Selain itu Belanda menjalankan praktik2 monopoli perdagangan dan pelayaran.
Alasan lainnya rakyat dibebani berbagai kewajiban berat, seperti kewajiban kerja, penyerahan ikan asin, dendeng dan kopi. Pada tahun 1817 perlawanan itu dikomandani oleh Kapitan Ahmad Lussy. Rakyat berhasil merebut Benteng Duurstede di Saparua, bahkan Residennya yang bernama Van den Bergh terbunuh. Perlawanan meluas ke Ambon, Seram dan tempat-tempat lainnya.
Berulangkali Belanda mengerahkan pasukan untuk menumpas perlawanan rakyat Maluku, tetapi berulangkali pula Belanda mendapat pukulan berat. Karena itu belanda meminta bantuan dari pasukan yang ada di Jakarta.
Keadaan jadi berbalik, Belanda semakin kuat dan perlawanan rakyat Maluku terdesak. Akhirnya Ahmad Lussy dan kawan-kawan tertangkap Belanda. Pada tanggal 16 Desember 1817 , Ahmad Lussy dan kawan-kawannya menjalani hukuman di tiang gantungan.

(Dari: MediaUmat).
Diposkan oleh mudzakarah wargajenggot di 19:03 0 komentar
Selasa, 11 Oktober 2011
Perjalanan dan Hikmah Dakwah di Taiwan

Abu Stabit Wrote:

http://usahadawah.wordpress.com/2007/09/11/9/#comment-324

Assalamu’alaikum

Sekedar berbagi pengalaman selama saya studi di negeri Taiwan. Alhamdulillah usaha dakwah juga sudah mulai dirintis di Taiwan. Di antara kaum muslim di sini ada juga beberapa sahabat kami yg berpemahaman salafy. Mereka ada taklim setiap malam minggu dan kami juga menghadiri taklim mereka, Alhamdulillah kami bisa sharing ilmu satu dengan yg lainnya.

Pada awalnya ada salah satu sahabat dari afrika yg mengajak muzakarah/mengingatkan kami tentang aktivitas tabligh termasuk tentang buku Fadilah Amal yg kami pakai sebagai taklim harian di masjid. Alhamdulillah rekan2 seusaha menaggapinya dengan hikmah. Mereka hanya menjawab melalui istiqomah dalam amal. Finally, mereka akhirnya menyadari bahwa tidaklah mudah mengamalkan agama di tempat2 yg tidak ada suasana seperti Taiwan.

Kebanyakan muslim di Taiwan hanya mampu datang ke mesjid pd hari jumat (lebih banyak lagi yg tdk datang meski utk jumatan karena sulit ijin dari kantor/sibuk kerja). Sebagian yg masih ada kesadaran datang hari sabtu utk ikut taklim. Pada kondisi seperti itulah, para ustad pemberi taklim tsb melihat dgn mata kepala sendiri bahwa rekan2 yg aktif dalam usaha dakwah (orang bilang JT) datang setiap hari ke mesjid utk buat amal maqomi menghidupkan amalan mesjid. Mereka sangat respek kepada rekan2 (orang bilang karkun) karena mereka sendiri hanya dpt datang ke mesjid pad hari jumat (jumatan) dan sabtu (taklim).

Sekedar informasi bahwa di seantero Taiwan hanya ada 6 masjid. Dua di antaranya ada di Taipei dan rata2 kaum muslim di sini tinggal sangat jauh dari mesjid, ditambah kondisi kerja yg sangat sulit maka jadilah 1 atau 2 kali datang ke mesjid selama seminggu.

Di Hongkong kondisinya lebih baik. Berkat usaha dakwah sekarang tumbuh beberapa madrasah islam di sana. Berkat usaha dakwah pula kami ada link dgn umat islam di hongkong. Ramadhan tahun lalu mereka mengirim seorang hafiz utk memimpin shalat taraweh di mesjid kecil Taipei selama sebulan. Utk mesjid besar (Grand Mosque), imam shalat taraweh digilir bergantian antara local Chinese muslim, arab, Africa dll.

Saya sendiri tahun lalu pernah mengimami shalat taraweh di mesjid besar mewakili muslim Indonesia. Beberapa minggu lalu kami bertemu imam Islamic Center Hongkong utk bermusyawarah tentang aktivitas ramadhan di Taiwan. Keputusan musyawarah bahwa ramadhan tahun ini hongkong akan mengirim 2 hafiz quran utk menjadi imam di Taiwan. Subhanallah..my dear respected brothers and sisters..marilah kita saling menghormati dan menyayangi satu dengan yg lainnya sehingga kerjasama kita akan menjadi asbab hidayah bagi umat seluruh alam.

Sudah terbukti di seantero dunia bahwa usaha dakwah ini telah menghidupkan kembali amalan islam yg telah ditinggalkan umat. Banyak kaum muslimin yg tadinya menyembunyikan keislamannya mulai berani menampakkan identitasnya sebagai muslim

Wassalamu’alaikum..

Abu Tsabit

Abu Tsabit Wrote:

Di kota Tainan (4 jam perjalanan dari Taipei) ada satu mesjid. Sayangnya mesjid ini hanya dibuka pada hari jumat utk shalat jumat. Apabila kami datang dari taipei utk khuruj atau kalau ada jamah foreign dan kami bawa ke mesjid tainan, maka hanya pada waktu itulah mesjid buka selain hari jumat. Karena tdk ada amalan mesjid, suatu hari selepas shalat jumat salah seorang jamaah di tainan didatangi 2 misionaris kristen menanyakan siapa pemilik mesjid dan mereka berniat membeli mesjid tsb. Subhanallah…kenapa ini terjadi ? Karena mesjid tdk hidup dgn amal. Ini patut menjadi kerisauan kita semua…
Diposkan oleh mudzakarah wargajenggot di 18:57 0 komentar
Tanggung Jawab Dakwah

1. DAKWAH TERHADAP DIRI SENDIRI DAN KELUARGA

Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS At-Tahrim 6)

Dalam ayat ini firman Allah ditujukan kepada orang-orang yang percaya kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, yaitu memerintahkan supaya mereka, menjaga dirinya dari api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu, dengan taat dan patuh melaksanakan perintah Allah, dan mengajarkan kepada keluarganya supaya taat dan patuh kepada perintah Allah untuk menyelamatkan mereka dari api neraka.

Di antara cara menyelamatkan diri dari api neraka itu ialah mendirikan salat dan bersabar, sebagaimana firman Allah SWT : “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu mengerjakannya” (QS. Taha 132).

Dan dijelaskan pula dengan firman-Nya : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”. (QS Asy Syu’ara’ 214).

Diriwayatkan bahwa ketika ayat ke 6 ini turun, Umar berkata: “Wahai Rasulullah, kami sudah menjaga diri kami, dan bagaimana menjaga keluarga kami?” Rasulullah SAW. menjawab: “Larang mereka mengerjakan apa yang kamu dilarang mengerjakannya dan perintahkanlah mereka melakukan apa yang Allah memerintahkan kepadamu melakukannya. Begitulah caranya meluputkan mereka dari api neraka. Neraka itu dijaga oleh malaikat yang kasar dan keras yang pemimpinnya berjumlah sembilan belas malaikat, mereka dikuasakan mengadakan penyiksaan di dalam neraka, tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan Allah.

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu menjelaskan, “Penjaganya adalah para malaikat Zabaniyah yang hati mereka keras, kaku, tidak mengasihi jika dimohon kepada mereka agar menaruh iba

Ada yang mengatakan, para malaikat itu kasar ucapannya dan keras perbuatannya. Ada yang berpendapat, malaikat tersebut sangat kasar dalam menyiksa penduduk neraka, keras terhadap mereka. Bila dalam bahasa Arab dinyatakan: “Fulanun Syadiidun ‘alaa fulaanin” maksudnya Fulan menguasainya dengan kuat, menyiksanya dengan berbagai macam siksaan.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Jarak antara dua pundak salah seorang dari malaikat tersebut adalah sejauh perjalanan setahun. Kekuatan salah seorang dari mereka adalah bila ia memukul dengan alat pukul niscaya dengan sekali pukulan tersebut tersungkur 70.000 manusia ke dalam jurang Jahannam.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 18/218)

Sebagaimana ayat ini mengharuskan seseorang menjaga keluarga dan anak-anak dari api neraka dengan cara memberikan pendidikan dan pengajaran kepada mereka, serta memberitahu mereka tentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang hamba tidak dapat selamat kecuali bila ia menegakkan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan terhadap dirinya dan orang-orang yang di bawah penguasaannya, baik istri-istrinya, anak-anaknya, dan selain mereka dari orang-orang yang berada di bawah kekuasaan dan pengaturannya.

2. DAKWAH TERHADAP KAUM KERABAT DAN TETANGGA DEKAT

Allah SWT berfirman : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”. (QS Asy Syu’ara’ 214).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi bukit Shafa dan menaikinya, lalu menyeru manusia untuk berkumpul. Maka orang-orang pun berkumpul di sekitar beliau. Sampai-sampai yang tidak dapat hadir mengirim utusannya untuk mendengarkan apa gerangan yang akan disampaikan oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian memanggil kerabat-kerabatnya, “Wahai Bani Abdil Muththallib! Wahai Bani Fihr! Wahai Bani Lu’ai! Apa pendapat kalian andai aku beritakan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda dari balik bukit ini akan menyerang kalian. Adakah kalian akan membenarkan aku?” Mereka serempak menjawab, “Iya.” Beliau melanjutkan, “Sungguh aku memperingatkan kalian sebelum datangnya azab yang pedih.” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

Aisyah radhiyallahu ‘anha memberitakan bahwa ketika turun ayat di atas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit seraya berkata, “Wahai Fathimah putri Muhammad! Wahai Shafiyyah putrid Abdul Muththalib! Wahai Bani Abdil Muththalib! Aku tidak memiliki kuasa sedikit pun di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menolong kalian kelak. (Adapun di kehidupan dunia ini) maka mintalah harta dariku semau kalian.” (HR. Muslim)

Dari Ibnu Abbas r.huma menceritakan, “Ketika Allah SWT. Menurun ayat : Berilah peringatan kepada kaum keluargamu yang dekat.” (QS Asy Syu’ara’ 214).

Maka Nabi SAW naik ke bukit Shafa dan berseru, “Hai manusia, Maka orang-orang pun berkumpul (menyambut seruan) beliau, ada yang datang sendiri dan ada yang mengutus wakil-wakilnya. Lalu Rasulullah SAW menyeru, “Wahai Bani Abdil Muthalib, wahai Bani Fihir, wahai Bani anu, Bani anu..! Bagaimana menurut kalian seandainya aku beritahukan pada kalian bahwa di balik bukit ini ada pasukan musuh berkuda yang siap menyerang kalian, apakah kalian mempercayai ucapku?” Mereka menjawab, “Ya, (kami percaya).” Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian akan azab yang pedih.” Mendengar hal itu, Abu Lahab langsung berkata, “Celakalah kamu sepanjang hari ini, apakah kamu mengundang kami semua hanya untuk ini?” (Sebagai jawaban atas celaan Abu Lahab ini), maka Allah ‘Azza wajalla menurunkan ayat :

“Celaka kedua tangan Abu Lahab, dan celakalah ia.” (QS. Al Lahab ayat 1) (Hr. Ahmad V/17)

3. DAKWAH TERHADAP KAMPUNG ATAU DAERAH SEKITARNYA

Allah SWT berfirman : “dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan Kitab-Kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya”. (QS Al-An’am 92).

Sesudah itu Allah SWT. menjelaskan bahwa Alquran itu adalah kitab yang bernilai tinggi, diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. penutup para Rasul. Kitab itu turun dari Allah seperti halnya Taurat yang diturunkan kepada Musa a.s. Hanya saja Alquran itu mempunyai nilai-nilai yang lebih sempurna karena Alquran itu berlaku abadi untuk sepanjang masa. Alquran itu di samping sebagai petunjuk juga sebagai pembenar kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dalam urusan tauhid, melenyapkan kemusyrikan dan mengandung ajaran-ajaran pokok hukum syarak yang abadi yang tidak berubah ubah sepanjang masa.

Juga sebagai pegangan bagi Rasulullah saw. untuk memperingatkan umatnya, baik yang berada di Mekah atau di sekitar kota Mekah, ialah orang-orang yang berada di seluruh penjuru bumi ini. Dimaksud dengan orang-orang yang berada di sekitar kota Mekah, ialah orang-orang yang berada di seluruh penjuru bumi, sesuai dengan pemahaman bahasa dan pengertian ini ditegaskan sendiri oleh Allah SWT : “Alquran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Alquran (kepadanya). (Q.S Al An’am 19)

Juga firman Allah SWT : Katakanlah, “Hai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua. (Q.S Al A’raf 158)

Dan sabda Nabi SAW : Semua nabi itu diutus hanya kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia. (HR Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdullah (Sahih Bukhari jilid 1, 70)

Dalam pada itu Allah SWT. menjelaskan bahwa orang-orang yang percaya akan terjadinya hari kiamat dan kehidupan di akhirat, sudah pasti mereka percaya kepada Alquran, karena orang-orang yang percaya kepada kehidupan akhirat itu percaya pula akan akibat yang diterima pada hari itu. Itulah sebabnya maka mereka selalu mencari petunjuk-petunjuk yang dapat menyelamatkan diri mereka di akhirat kelak. Petunjuk-petunjuk itu terdapat dalam Alquran, maka mereka tentu akan mempercayai Alquran itu, percaya pada Rasulullah saw. yang menerima kitab itu dan taat kepada perintah-Nya, melaksanakan salat pada waktunya secara terus menerus.

Disebutkan salat dalam ayat ini, karena salat itu adalah tiang agama dan pokok dari semua ibadah. Orang yang melaksanakan salat dengan sebaik-baiknya adalah pertanda bahwa orang itu suka melaksanakan ibadah lainnya serta dapat mengendalikan hawa nafsunya untuk tidak melakukan larangan larangan Allah.

Dalam ayat ini terdapat sindiran yang tegas yaitu adanya keingkaran penduduk Mekah dan manusia-manusia yang mempunyai sikap seperti mereka kepada Alquran dan menjelaskan bahwa mereka tidak mau menerima agama Islam dan kerasulan Muhammad saw. adalah karena mereka tidak percaya kepada kehidupan akhirat. Mereka merasa bahwa kehidupan hanya terjadi di dunia saja.

4. DAKWAH ATAU TANGGUNG JAWAB MANUSIA SELURUH ALAM.

Allah SWT berfirman : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk seluruh manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali Imran 110)

Ayat ini mengandung suatu dorongan kepada kaum mukminin supaya tetap memelihara sifat-sifat utama itu dan supaya mereka tetap mempunyai semangat yang tinggi.

Umat yang paling baik di dunia adalah umat yang mempunyai dua macam sifat, yaitu mengajak kebaikan serta mencegah kemungkaran, dan senantiasa beriman kepada Allah. Semua sifat itu telah dimiliki oleh kaum muslimin di masa nabi dan telah menjadi darah daging dalam diri mereka karena itu mereka menjadi kuat dan jaya. Dalam waktu yang singkat mereka telah dapat menjadikan seluruh tanah Arab tunduk dan patuh di bawah naungan Islam, hidup aman dan tenteram di bawah panji-panji keadilan, padahal mereka sebelumnya adalah umat yang berpecah belah selalu berada dalam suasana kacau dan saling berperang antara sesama mereka. Ini adalah berkat keteguhan iman. dan kepatuhan mereka menjalankan ajaran agama dan berkat ketabahan dan keuletan mereka menegakkan amar makruf dan mencegah kemungkaran. Iman yang mendalam di hati mereka selalu mendorong untuk berjihad dan berjuang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan sebagaimana tersebut dalam firman Allah : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul Nya. kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar”. (QS. Al Hujurat 15)

Jadi ada dua syarat untuk menjadi sebaik-baik umat di dunia, sebagaimana diterangkan dalam ayat ini, pertama iman yang kuat dan; kedua menegakkan amar makruf dan mencegah kemungkaran. Maka setiap umat yang memiliki kedua sifat ini pasti umat itu jaya dan mulia dan apabila kedua hal itu diabaikan dan tidak diperdulikan lagi, maka tidak dapat disesalkan bila umat itu jatuh ke lembah kemelaratan.

Selanjutnya Allah menerangkan bahwa Ahli Kitab itu jika beriman tentulah itu lebih baik bagi mereka. Tetapi sedikit sekali di antara mereka yang beriman seperti Abdullah bin Salam dan kawan-kawannya, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik tidak mau beriman. mereka percaya kepada sebagian kitab dan kafir kepada sebagiannya yang lain, atau mereka percaya kepada sebagian Rasul seperti Musa dan Isa dan kafir kepada Nabi Muhammad SAW.

Ibnu katsir mengatakan ayat ini mengandung makna umum mencakup semua ummat ini dalam setiap generasinya dan sebaik-baik generasi mereka ialah orang-orang yang Rasulullah SAW diutus dikalangan mereka, kemudian orang-orang sesudah mereka, kemudian orang-orang sesudah mereka.

Makna ayat ini sama dengan makna ayat lain :

Allah SWT berfirman : “dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan” (QS. Al Baqarah 143)

Bagaimana caranya mengamalkan ayat-ayat tersebut ?

1. Untuk diri sendiri dan keluarga salah satu usahanya yaitu kita buat ta’lim dirumah

2. Untuk kaum kerabat dan tetangga dekat silahturahmi, Jaulah untuk saling mengingatkan

3. Untuk kampung sekitar atau kota sekitar maka waktunya kami sediakan minimal 3 hari setiap bulan

4. Kemudian yang terakhir untuk seluruh manusia ini tentunya sangat berat karena jumlah manusia lebih dari 6 milliar, maka dengan kelemahan kami alim ulama telah ajak keluar dalam waktu yang agak lama yaitu 40 hari dan atau 4 bulan baik di dalam negeri maupun ke luar negeri. Memang seumur hidup belum tentu bisa mendatangi semua orang, tetapi Insya Allah dengan niat untuk mendatangi seluruh manusia kemudian mengajak orang yang lain buat usaha yang sama maka Allah akan terima niat kita, sebagaimana Rasulullah SAW diutus untuk seluruh umat sampai hari terakhir yang Allah kehendaki namun umur beliau hanya 63 tahun, tapi Allah terima usaha yang dilakukan Rasulullah SAW sehingga usaha ini masih akan berlanjut sampai hari terakhir yang Allah kehendaki. Jadi usaha da’wah rasulullah yang dilakukan ini bukan hanya 3 hari, 40 hari atau 4 bulan saja, tapi setiap hari dan seumur hidup kita untuk dakwah dan dakwah menjadi maksud hidup.

source : Oleh Sdr.Mahodum Hsb, http://www.facebook.com/home.php?sk=group_210119202331448&view=doc&id=212522125424489

Diposkan oleh mudzakarah wargajenggot di 18:50 0 komentar
Senin, 10 Oktober 2011
Burung Hud-Hud Yang Berperan Dalam Dakwah dan Menjadi Asbab Hidayah

Coba kita pelajari dengan baik kisah yang dijelaskan dalam Al-quran, perihal Burung Hud-Hud yang mempunyai peran dalam da’wah dan menjadi asbab hidayah.Kita tidak boleh menyepelekan peran kalangan kaum muslimin yang lemah atau belum banyak Ilmunya terjun dalam kerja da’wah ini. Kisah ini akan menjadi renungan kita semua, bagaimana burung bisa mempunyai peran dalam da’wah dan asbab Hidayah? Mudah-mudahan kita semua menjadi bagian dari asbab hidayah di seluruh alam.

(QS An Naml (27): 20-44)

20. Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud[1093], apakah dia termasuk yang tidak hadir.

21. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.”

22. Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba[1094] suatu berita penting yang diyakini.

23. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita[1095] yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.

24. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk,

25. agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi[1096] dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.

26. Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang besar.”

27. Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.

28. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”

29. Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.

30. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

31. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”

32. Berkata dia (Balqis): “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku).”

33. Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan

34. Dia berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.

35. Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.”

36. Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: “Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.

37. Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina.”

38. Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”

39. Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya

40. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab[1097]: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”

41. Dia berkata: “Robahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya).”

42. Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: “Serupa inikah singgasanamu?” Dia menjawab: “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya[1098] dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.”

43. Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.

44. Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana.” Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca.” Berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam (QS An Naml (27): 20-44)

source : http://usahadawah.com/
Diposkan oleh mudzakarah wargajenggot di 20:13 0 komentar
Berdakwah Dengan Cara Damai

Oleh: Su’ud Hasanudin

India adalah sebuah wilayah yang cukup luas pada masa sebelum berpacahnya menjadi beberapa Negara; India, Pakistan, Bangladesh, Kashmir yang mesih menjadi sengketa. Di negeri ini banyak bermunculan gerakan dan sekte keagamaan dengan macam dan ragamnya, mulai dari gerakan pencerahan keagamaan hingga singkritisasi perpaduan dari beberapa agama. Syiah islmailiyah, Deoband, Nadwatul ulama, Aligart movement, Berelvi, Tabligh, Ahmadiyah, Sikh, dan masih banyak lagi.

India masih dikenal sebagai Negara yang berpenduduk mayoritas hindu, namun didalam Negara India terdapat sejumlah masyarakat muslim yang jauh lebih besar dari masyarakat Islam di Indonesia yang disebut sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Demikian juga India tidaklah sepanjang masa dikuasai oleh masyarakat hindu, bahkan sebelum masukanya inggris ke dataran India masyarakat muslim pernah memimpin negara tersebut dalam bentang waktu yang cukup lama. Setidaknya dalam beberapa kitab hadits nama India terabadikan didalamnya, seperti dalam shohih al Bukhory[1] nama al hind disebut sebagai sebuah tempat yang pernah didatangkan dari wilayah tersebut sebatang kayu untuk dijadikan bahan atap masjid an Nabawi pada masa kholifah Usman bin Afan. Bahkan dalam sunan an Nasai[2] terdapat satu bab khusus mengenai Ghozwa tul Hind (pengiriman pasukan di India).

Bangsa India telah memiliki kekayaan budaya dan alam dan sudah dikenal oleh masyarakat dunia sejak lama, bahkan lembah mohinyo daro, dalam sejarah dilihat sebagai salah satu peradapan tertua di dunia. Dan dari kekayaan alam itulah bangs eropa tertarik untuk datang ke wilayah ini.

Masyarakat Islam berkembang di wilayah ini pada abad ke-8, setelah masuknya Muhammad bin Qosim, ke wilayah ini sebagai utusan dari pemerintahan Islam di Damaskus pada saat itu [3]. Pemerintahan Islam berdiri untuk pertama kalinya di dataran India pada kisaran tahun 712 M, berkedudukan di wilayah sind.[4]

Datangnya Ingris ke dataran India paling tidak telah merubah wajah dataran India, salah satu diantaranya adalah terpecahnya wilayah dataran tersebut menjadi beberapa Negara; India, Pakistan, Bangladesh, yang dahulu adalah satu wilayah kesatuan dengan sebutan India.

Munculnya multi movement di India

Setelah runtuhnya kekuasaan kerajaan monghul, umat Islam di India membentuk beberapa frond perjuangan, baik yang berbasis gerakan keagaaman, politik, maupun pendidikan.

Gerakan yang dipinpin oleh Shah Waliyullah ad Dahalwi adalah salah satunya sebuah gerakan pembaharuan yang membawa masyarakat Islam India kembali menyadari akan pentingnya karakteristik keIslaman. Laskar perjuangan (Jihat Movement) yang dipimpin oleh Syeh Ahmad (1785) adalah salah satu gerakan perjuangan melawan penjajahan Ingris dan menginginkan kembalinya pemerintahan kekhalifahan sebagaimana yang pernah terjadi pada generasi sahabat [5].

Sir Syed dengan ali garh Movement adalah sebuah gerakan pembaharuan dalam bidang pendidikan di dataran India yang di dirikan pada tahun 1857, dengan landasan ingin memperbaiki dengan mengangkat martabat bangsa muslim India.

Melihat gerakan Sir Syed Ahmad Khan yang cenderung menyimpang [6] para ulama India kemudian mendirikan Dar ul Ulum Deoband pada tahun 1867.

Setelah beberapa kali terjadi konfik dan perseteruan antara gerakan Sir Syed dan Dar ul Ulum, ada beberapa pihak yang mencoba untuk menengahi masalah tersebut, kemudian didirikanlah Nadwat ul Ulama Lacknow. Gerakan ini berkeinginan untuk menyatukan dua fikiran yang dinilai bertolak belakang; yakni extreme modern development yang cenderung ke barat-baratan dan traditional approaches, prinsip utama Nadwat ul Ulama yang didirikan oleh Syed Muhammad Ali Cawnpuri adalah modern tanpa menghilangkan tradisi.

Sementara dibidang politik, Muslim Leage diririkan tahun 1906 untuk memperjuangkan dan mengembalikan citra baik masyarakat muslim India. Pada umumnya orang-orang yang duduk di Muslim luage adalah buah dari gerakan Sir Syed dengan Aligarh College nya.

Dan dalam masa-masa menjelang pemisahan Pakistan dari India Jama’ah Tabligh didirikan.

Sejarah berdiri jama’ah tabligh.

Jama’ah Tabligh secara susunan bahasa diambil dari bahasa Arab: جماعة التبليغ , yang berarti “kelompok penyampai dan penyebar”. Jama’ah Tabligh didirikan pada akhir 1920-an oleh Maulana Muhammad Ilyas Kandhalawi di Mewat, sebuah provinsi di India.

Ada sejarah yang terpotong dalam melihat jama’ah tabligh, seringkali jama’ah tabligh diidentikan dengan Pakistan. Bukan hanya sebab memandang dari ciri khas meraka berpakaian, rewind yang tidak jauh dari pusat kota Lahor merupakan diantara tempat yang memiliki kedudukan khusus bagi para peminat jama’ah tabligh. Seringkali perhelatan besar diselenggarakan di tampat itu, bahkan ijtima (international conference) tahunan selalu dilaksanakan di kota tersebut.

Lahore sebenarnya bukanlah kota kelahiran asal jama’ah tersebut, melainkan jama’ah tersebut sebenarnya dilahirkan di Kandhalawi di Mewat, sebuah provinsi di India.

Muhammad Ilyas sendiri dilahirkan pada tahun 1303 H dengan nama asli Akhtar Ilyas. Ia meninggal pada tanggal 11 Rajab 1363 H.

Ketika Muhammad Ilyas melihat mayoritas orang Meiwat[7] (suku-suku yang tinggal di dekat Delhi, India) jauh dari ajaran Islam, berbaur dengan orang-orang Majusi para penyembah berhala Hindu, bahkan memakai nama-nama orang Hindu, serta tidak ada lagi keislaman yang tersisa kecuali hanya nama dan keturunan, kemudian kebodohan yang kian merata, tergeraklah hati Muhammad Ilyas. Pergilah ia ke Syaikhnya dan Syaikh tarekatnya, seperti Rasyid Ahmad Al-Kanhuhi dan Asyraf Ali At-Tahanawi untuk membicarakan permasalahan ini. Dan ia pun akhirnya mendirikan gerakan tabligh di India, atas perintah dan arahan dari para syaikhnya tersebut. Merupakan suatu hal yang ma’ruf di kalangan tablighiyyin (para pengikut jamah tabligh) bahwasanya Muhammad Ilyas mendapatkan tugas dakwah tabligh ini setelah kepergiannya ke makam Rasulullah

Tujuan utama dari gerakan Tabligh ini adalah membangkitkan jiwa spiritual dalam diri dan kehidupan setiap muslim. Jama’ah Tabligh merupakan pergerakan non-politik. Jama’ah Tabligh juga merupakan gerakan Islam yang tidak memandang asal-usul mahdzab atau aliran pengikutnya, Ada dua hal yang tidak boleh diperbincang selama Tabligh, yaitu soal politik dan khilafiah.

Berkenaan dengan nama, mungkin banyak kalangan dalam jama’ah tabligh sendiri terkadang enggan menyebut nama gerakan tersebut dengan nama apapun. Tidak diketahui secara pasti siapakah yang memberi nama jama’ah tersebut dengan sebutan jama’ah Tabligh, namun yang pasti dari jaulah (perjalanan dakwah yang mereka tempuh) mengisyaratkan bahwasanya diambilnya nama tabligh karena keterikatan meraka dengan selalu mengadakan bepergian untuk menyampaikan Islam

Ajaran dasar Jama’ah Tabligh

Jama’ah Tabligh mempunyai suatu asas dan landasan yang sangat dipegang teguh. Asas dan landasan ini mereka sebut dengan al-ushulus sittah (enam landasan pokok) atau ash-shifatus sittah (sifat yang enam), dengan rincian sebagaimana berikut;

Sifat Pertama: Merealisasikan Kalimat Thayyibah Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah.

Mereka menafsirkan makna Laa Ilaha Illallah dengan: “mengeluarkan keyakinan yang rusak tentang sesuatu dari hati kita dan memasukkan keyakinan yang benar tentang dzat Allah, bahwasanya Dia-lah Sang Pencipta, Maha Pemberi Rizki, Maha Mendatangkan Mudharat dan Manfaat, Maha Memuliakan dan Menghinakan, Maha Menghidupkan dan Mematikan.

Sifat ke dua: Shalat khusyu’ dan khudu’. Artinya: Shalat dengan konsentrasi batin dan rendah diri dengan mengikuti cara yang dicontohkan Rasulullah.

Dan memiliki maksud membawa sifat-sifat ketaatan kepada Allah dalam shalat kedalam kehidupan sehari-hari.

Sifat ketiga: Keilmuan yang ditopang dengan dzikir. Ilmu yang berarti semua petunjuk yang datang dari Allah melalui Baginda Rasulullah. Dan dzikir yang berarti mengingat Allah sebagaimana keagung-Nya.

Yang dimaksud Ilmu ma’adz dzikr (ilmu yang di topang dengan dzikir) adalah melaksanakan perintah Allah dalam setiap saat dan keadaan dengan menghadirkan ke-Agungan Allah mengikuti cara Rasulullah.

Sifat Keempat: Menghormati Setiap Muslim (Ikramul Muslimin), artinya Memuliakan sesama muslim. Maksudnya: Menunaikan kewajiban pada sesama muslim tanpa menuntut hak dari padanya.[8]

Sifat Kelima: Memperbaiki Niat (Membersihkan niat dalam beramal, semata-mata karena Allah). Tidak diragukan lagi bahwasanya memperbaiki niat termasuk pokok agama dan keikhlasan adalah porosnya.

Sifat Keenam: Dakwah dan Khuruj di jalan Allah subhanahu wata’ala. Cara merealisasikannya adalah dengan menempuh khuruj (keluar untuk berdakwah) bersama Jama’ah Tabligh, empat bulan untuk seumur hidup, 40 hari pada tiap tahun, tiga hari setiap bulan, atau dua kali berkeliling pada tiap minggu di tempat ia tinggal. Dalam perjalanan khuruj mereka selalu meluangkan untuk menjenguk orang sakit, mengunjungi para sesepuh dan bersilaturahmi, membaca satu juz Al Qur’an setiap hari, memelihara dzikir-dzikir pagi dan sore, membantu para jama’ah lainya yang sedang lewat dalam rangka khuruj. Dan sebelum melakukan khuruj.

Mereka selalu diberi hadiah-hadiah berupa konsep berdakwah yang disampaikan oleh salah seorang anggota jama’ah yang berpengalaman dalam hal khuruj atau yang disebut dengan tasykil.[9]

Dilihat secara sepintas, tidak ada indikasi dalam ajaran jama’ah tabligh yang menyimpang dari konsep dasar Islam. Dari ke enam sifat yang dipilih oleh jama’ah tabligh semuanya memiliki dasar dalam agama Islam baik dalam al Quran maupun as Sunnah. Bahkan ke eman sifat tersebut cenderung merupakan sifat yang disepakati oleh semua umat Islam tanpa menuai perbedaan.

Siapapun orangnya, selama dia masih mengaku sebagai muslim pasti mengakui pentingnya dua kalimat syahadat dan merealisasikan dalam bentuk tindak-tanduk nyata, demikian juga dengan shalat. Shalat bukan hanya sekedar kewajiban yang harus ditunaikan, namun shalat adalah salah satu ritual pensucian diri sehingga diharapkan orang-orang yang shalat memiliki jiwa yang fitri dengan mengakui adanya kebenaran dan berusaha melaksanakanya dan mengakui adanya kejelekan dengan berusaha menjahuinya.

Hanya dalam konsep yang ke enam jama’ah tablig menuai kritik penggunaan istilah khuruj. Khuruj dalam istilah yang digunakan oleh para pendahulu adalah keluar untuk menjemput musuh. Namun dalam hal ini Jamah Tabligh menggunakan istilah khuruj dalam rangka keluar berdakwah tanpa membawa senjata atau kesiapan bertempur.

Sangat jelas antara keluar menjemput musuh dan keluar menemui sesama muslim[10] untuk berdakwah adalah dua hal yang berbeda, dari tingkat kesulitan dan resiko.

Tapi bagi saya, istilah khuruj dalam jama’ah tabligh adalah sebuah hasil ijtihat Maulana ilyas yang didahului oleh perenungan yang cukup panjang, dimana umat Islam setelah runtuhnya kekhalifahan ustmaniyah terpencar dalam wilayah-wilayah yang cukup banyak penamaanya. Dan hampir istilah khuruj tidak beredar dalam praktek disebabkan tidak adanya kekhalifahan, terlebih lagi pemerintahann Islam Mungol telah lenyap dari dataran India. sebab dalam (khuruj) harus melalui keputusan khalifah (ta’yin).

Melihat kondisi yang sedemikian, maka patut untuk dilakukan ijtihat mengubah konsep khuruj dalam rangkan menghadapi musuh, kepada khuruj dalam rangka mengembalikan dan membangkitkan rasa keislaman dari pribadi-pribadi yang telah memudar.

Sebagian kalangan menggagap bahwa konsep khuruj adalah bid’ah (atau sesuatu yang diada-adakan) yang sebelumnya tidak ada. Namun dalam ceramah yang pernah penulis dengar konsep khuruj yang mereka kenal khuruj fi sabilillah adalah sebuah usaha penyelamatan meredupnya semangat keislaman dari para pribadi muslim.[11]

Pendidikan dalam jama’ah tabligh

Jama’ah tabligh bukan hanya mengandalkan kegiatan khuruj saja sebagai wahana pendidikan umat, namun jama’ah tabligh juga memiliki madrasah (lembaga pendidikan) untuk menyiapkan kader-kader yang siap berbakti menyebarkan agama Islam.

Madaris (lembaga-lembaga pendidikan) yang dimiliki oleh jama’ah tabligh di Pakistan pada umumnya masih mengikuti system pendidikan yang dimiliki oleh madaris Deoband, dengan mengandalkan masjid sebagai tempat beribadah sekaligus tempat pendidikan. Biasanya dalam satu kelompok memiliki pembimbing khusus, dan dalam periode tertentu mengalami pergantian.

Ada hal yang menarik dalam setiap madaris yang mereka miliki khususnya dalam beberapa masjid besar mereka seperti; Rewind dan Zakaria Masjid di Rawal Pindi, adalah penguasaan beberapa bahasa asing selain urdu sebagai bahasa popular mereka, seperti inggris dan cina.

Dalam beberapa pertemuan besar kemampuan mereka berbahasa biasa terlihat dengan kegiatan mereka dalam menterjemah secara langsung dari bahasa urdu ke dalam bahasa-bahasa yang dibutuhkan oleh kalangan yang datang.

Dalam bidang ini jama’ah tabligh dinilai oleh beberapa kalangan tidak memiliki pendalaman yang memadahi, salah satu gejala yang biasa kami deteksi adalah minimnya buka yang dicetak baik mengenai jama’ah tabligh sendiri atau buku-buku dalam bidang keislaman yang mereka kuasai.

Kitab yang sering dijadikan acuan oleh mereka adalah fadhoil us Shohabah, fadhoil ul Amal, yang cenderung menuai kritik dari beberapa pakar ahli dalam bidangnya. Seperti Fadhoil ul A’mal adalah tergolong kitab yang ditulis dalam bidang hadits, walaupun tidak secara utuh. Namun dalam kitab tersebut terdapat banyak hadits palsu dan cenderung mengada-ada yang tidak mendapatkan penjelasan dan perhatian yang memadahi. Hingga dari banyak kalangan mereka menelan dan mempercayai mentah-mentah apa yang ada dalam kitab tersebut.

Salah satu kesalahan para jama’ah tabligh tatkala ditanya tentang hadits- hadits palsu yang ada dalam kitab tersebut, meraka menjawab bahwa diperbolehkan menggunakan hadits dhoif dalam fadhoil ul A’mal.

Sedangkan para pakar hadits bersepakat bahwa hadits maudhu (palsu) tidak bisa digunakan dasar dalam bidang apapun. Sedangkan diperbolehkanya menggunakan hadits dhoif dalam fadhoil A’mal adalah dalam koridor dan persyaratan tertentu. Seakan dalam hal ini jama’ah tabligh tidak membedakan antara hadits dhoif dan hadits maudhu’.

Jama’ah Tabligh dan Politik

Jama’ah Tabligh adalah jama’ah paling netral dalam masalah polotik, bahkan mereka cenderung untuk tidak turun tangan dalam masalah politik praktis.

Jama’ah tabligh adalah jama’ah yang senantiasa menganjurkan kepada pengikutnya untuk tidak bicara politik dalam perjalanan yang mereka lakukan, sebab masalah politik adalah masalah yang selalu mendatangkan pro dan kontra.

Dan dalam bernegara jama’ah tabligh tergolong tidak melawan penguasa, sekalipun dalam posisi menuai kritik dari banyak kalangan. Oleh sebab itu jama’ah tabligh bisa hidup dimana saja, seperti di Pakistan yang setiap saat berubah. Malaysia yang cenderung monarki, bahkan di Negara-negara minoritas seperti dataran eropa dan amerika.

Jama’ah tabligh juga tergolong yang tidak menusingkan wilayah territorial Negara, walaupun jama’ah tabligh ada di India dan di Pakistan, jama’ah tabligh tidak pernah bermimpi untuk membuat satu dua komunitas tersebut bersatu dalam satu kawasan untuk membentuk masyarakat memiliki pengaruh tawar-menawar terhadap penguasa untuk kepentingan politik tertentu.

Namun pada Negara-negara tertentu jama’ah tabligh tidak bisa melancarkan kegiatan secara maksimal sepeti di Negara Saudi. Jama’ah tabligh di Saudi cenderung dianggap jama’ah yang menyimpang dari beberapa cara pandang, diantaranya dalam masalah aqidah sufistik yang mereka miliki, atau kebanyakan cirita-cerita khurofat yang mereka kembangkan.

wallahu a’lam bis showab.

source : http://fospi.wordpress.com/2009/06/15/jamaah-tabligh/
Diposkan oleh mudzakarah wargajenggot di 20:05 0 komentar
Minggu, 09 Oktober 2011
Sebab Sebab Penciptaan Serta Rahasia Ujian dan Cobaan

Yang dapat menentukan dan memastikan secara detail tentang penciptaan manusia hanyalah Alloh SWT karena Dialah Sang Pencipta Yang Maha Mengetahui, bukan saja terhadap penciptaan manusia, melainkan setiap penciptaan. Penciptaan unsur paling kecil sekalipun di alam ini, berada dalam pengetahuan Nya yang sangat luas. Dia juga yang berkehendak, menciptakan dan menerangkan kepada kita sebab sebab penciptaan kita dan keberadaan kita. Oleh karena itu, saya tidak berani menjelaskan dan menerangkannya terlebih dahulu. Berikut ini dalah keterangan dan penjelasan mengenai penciptaan.

Pertama, Alloh SWT tidak menciptakan kita dengan main main dan sia sia. Alloh SWT berfirman tentang penciptaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya.

Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dengan bermain main. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan (istri dan anak), tentulah Kami telah melakukannya. (QS Al Anbiya’: 16-17)

Alloh SWT juga berfirman tentang penciptaan manusia :

Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main main saja dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami ? (QS Al Mu’minun: 115)

Kedua, sebagai penguat bahwa penciptaan manusia, langit dan bumi tidak sia sia Alloh SWT menciptakan akhirat dan keberadaannya sebagai balasan, baik bagi orang yang berbuat jahat maupun bagi orang orang yang berbuat baik.

Alloh SWT berfirman :

Dan kepunyaan Alloh lah apa yang ada di langit dan apa yanga ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga). (QS. An Najm: 31).

Alloh SWT menjadikan iman secara mutlak terhadap akhirat sebagai dasar akidah. Alloh SWT juga bersumpah d dalam kitab Nya bahwa kita akan dibangkitkan, dikembalikan, dihisab.

Alloh SWT berfirman:

Orang orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, “Tidak demikian, demi Tuhanku, benar benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” Yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh. (QS. At Taghabun: 7)

Ketiga, Alloh SWT menciptakan manusia bukanlah untuk dihancurkan, melaikan untuk kekekalan. Kematian hanyalah merupakan suatu periode yang harus dijalani manusia. Dalam ayat al Quran, disebutkan secara jelas bahwa mati hanyalah ciptaan sebagaimana hidup juga ciptaan.

Yang menjadi mati dan hidup… (QS Al Mulk: 2)

Karena mati merupakan ciptaan (makhluk), berarti ia mempunyai ketentuan sebagaimana kehidupan dunia juga mempunyai ketentuan atau ketetapan. Setelah melewati hari kiamat, kehidupan abadi yang sebenarnya dimulai, baik di surga maupun di neraka. Sebagaimana Alloh SWT telah bersumpah atas pengembalian kita, Dia juga menerangkan kepada kita bahwa orang orang kafir dan musyrik akan dimasukan ke dalam neraka jahanam dan mereka kekal di dalamnya. Sedangkan orang orang yang beriman kepada Alloh dan beramal sholeh adalam penghuni surga dan mereka kekal di dalamnya.

Alloh SWT berfirman :

Dan orang orang yang beriman serta beramal sholeh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS Al Baqarah: 82)

Sesungguhnya orang orang kafir, yakni ahli kitab dan orang orang musyrik akan masuk neraka jahanam, mereka kekal di dalamnya. Mereaka itu adalah seburuk buruk makhluk. (QS Al Bayyinah: 6)

Dengan kebenaran Ilahi ini, kita telah berada di depan hakikat wujud kita sendiri dan wujud semuanya, yaitu hakikat ujian dan cobaan yang merupakan kaidah dasar tentang wujud.

Alloh SWT berfirman :

Yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS Al Mulk: 2)

Dan Dia lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah “Arsy Nya di atas air agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya….(QS Hud: 7)

Dalam ayat lain Alloh SWT juga berfirman :

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (QS Al Kahfi: 7)

Dengan demikian, keberadaan kita di dunia ini sebenarnya sedang diuji dan diawasi oleh Alloh SWT dalam setiap perbuatan atau amal, dalam gerakan atau diam, baik yang kita rahasiakan maupun kita nyatakan, dan yang kita perlihatkan atau yang kita sembunyikan.

Alloh SWT berfirman:

Sama saja bagi Tuhan, siapa di antara kalian yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus terang dengan ucapannya itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan menampakkan diri di siang hari. Bagi manusia ada malaikat malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Alloh…(QS Ar Ra’d: 10-11)

Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. (QS Al Mu’min: 19)

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (QS Qaf: 16)

Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS Qaf: 18)

Pada hari itu kamu dihadapkan kepada Tuhanmu, tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi bagi Alloh. (QS Al Haqah: 18)

Padahal sesungguhnya bagi kamu ada malaikat malaikat yang mengawasi pekerjaanmu. Yang mulia di sisi Alloh dan yang mencatat pekerjaan pekerjaan itu. (QS Al Infithar: 10-11)

Tidak ada suatu jiwa pun melainkan ada penjaganya. (QS Ath Thariq: 4)

Berdasarkan kaidah yang jelas mengenai pengawasan yang ketat ini, Alloh SWT juga menerangkan kaidah lain yang merupakan nilai atau hasil dari pengawasan tersebut, yaitu kaidah tentang perhitungan amal yang sangat jeli yang melampaui batas akal dan pengetahuan kita.

Alloh SWT berfirman :

…Dan jika amalan itu hanya seberat biji sawi pun pasti akan Kami mendatangkan pahalanya. Dan cukuplah bagi Kami sebagai Pembuat perhitungan. (QS Al Anbiya’: 47)

…Sesungguhnya jika ada suatu perbuatan seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Alloh akan mendatangkannya (membalasnya)… (QS Luqman: 16)

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya, dan mereka berkata “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan mencatat semuanya dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada tertulis. Dn Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun.” (QS Al Kahfi: 49)
wargajenggot.blogspot.com